mengapa kita butuh keheningan total
bahaya polusi suara bagi kognisi
Mari kita jujur sebentar. Kapan terakhir kali teman-teman benar-benar berada dalam keheningan total? Bukan sekadar kamar yang sepi saat malam hari. Sebab, kalau kita perhatikan baik-baik, kamar yang "sepi" pun penuh dengan suara. Ada dengung kulkas dari luar pintu. Ada putaran kipas angin atau dengkuran halus air conditioner. Ada suara motor kejauhan dari jalan raya. Dunia modern kita ini sangat cerewet. Kita hidup dalam sebuah era di mana keheningan menjadi barang mewah yang hampir punah. Padahal, berbeda dengan mata, telinga kita tidak pernah punya kelopak untuk ditutup. Otak kita terus-menerus mengunyah suara-suara ini dua puluh empat jam sehari. Dan perlahan, tanpa kita sadari, rentetan suara tak terlihat ini sedang menggerogoti kemampuan kita untuk berpikir.
Untuk memahami mengapa ini menjadi masalah besar, kita perlu mundur sejenak melihat sejarah evolusi kita. Bagi nenek moyang kita di sabana purba, suara keras nyaris selalu berarti satu hal: ancaman. Auman predator, suara longsor, atau retakan dahan kayu adalah sinyal bagi tubuh untuk segera bertindak. Tubuh akan memompa adrenalin dan hormon kortisol. Ini adalah mode fight or flight, atau bertarung dan lari. Mekanisme ini luar biasa hebat untuk bertahan hidup. Tapi mari kita lihat realitas kita sekarang. Kita duduk di kedai kopi sambil mencoba bekerja. Ada suara mesin espresso yang mendesis tajam. Musik lo-fi berdentum di speaker. Suara klakson bersahutan dari jalanan. Tubuh kita bereaksi persis seperti nenek moyang kita yang sedang diintai harimau. Mesin biologi kita memompa hormon stres terus-menerus karena polusi suara ini. Kita mungkin merasa santai dan sudah terbiasa. Tapi sistem saraf kita tahu bedanya, dan ia sedang bekerja lembur.
Pertanyaannya, apa yang terjadi jika alarm bahaya di kepala kita menyala tanpa henti? Bayangkan otak kita sebagai smartphone yang puluhan aplikasinya berjalan di latar belakang secara bersamaan. Kita mungkin sedang fokus menatap layar laptop, mencoba menyelesaikan laporan. Tapi diam-diam, radar pendengaran kita sibuk mengkalkulasi setiap decit kursi rekan kerja dan deru mesin kendaraan di luar sana. Psikologi kognitif menyebut fenomena ini sebagai beban kognitif yang berlebihan. Pernahkah kita merasa sangat kelelahan di sore hari padahal kita hanya duduk seharian di depan meja? Kita mungkin menyalahkan pekerjaan yang menumpuk. Kita mungkin menyalahkan kurangnya kafein. Tapi, mungkinkah rasa lelah yang menguras jiwa itu sebenarnya bukan karena apa yang kita kerjakan? Bagaimana jika kelelahan itu sesungguhnya berasal dari upaya mati-matian otak kita menyaring sampah suara sejak kita membuka mata di pagi hari?
Di sinilah sains keras memberikan jawaban yang sangat menarik. Keheningan itu ternyata bukan sekadar absennya suara. Bagi otak kita, keheningan adalah sebuah kehadiran yang aktif. Sebuah studi neurosains terkemuka pada tahun 2013 menemukan fakta yang awalnya sama sekali tidak disengaja. Para peneliti sedang menguji efek berbagai jenis suara pada tikus percobaan. Mereka menggunakan keheningan sebagai variabel kontrol, jeda di antara pengujian. Hasilnya membuat mereka tercengang. Ketika berada dalam keheningan total selama dua jam sehari, sel-sel baru justru tumbuh pesat di area hippocampus otak tikus-tikus tersebut. Ini adalah area otak krusial yang mengatur memori, pembelajaran, dan kendali emosi. Keheningan secara harfiah menumbuhkan dan meregenerasi otak kita. Saat suara bising berhenti, otak kita masuk ke dalam mode default mode network. Di fase inilah otak kita melakukan "bersih-bersih". Ia merajut ingatan, memproses emosi yang tertunda, dan memunculkan ide-ide kita yang paling kreatif. Kelelahan luar biasa yang kita rasakan setiap hari terjadi karena otak kita kelaparan akan keheningan. Ia tidak pernah diberi waktu untuk memulihkan diri.
Tentu saja, kita tidak bisa tiba-tiba mengemasi barang dan pindah ke gua pertapaan yang kedap suara di puncak gunung. Kita hidup, bekerja, dan bermasyarakat di dunia nyata yang bising. Dan itu tidak apa-apa. Namun, mengetahui sains di balik ini semua memberi kita kendali baru. Kita bisa mulai dengan sengaja menciptakan kantong-kantong keheningan dalam hari kita. Mungkin itu berarti mematikan radio saat menyetir pulang ke rumah. Mungkin itu berarti menggunakan noise-cancelling headphone tanpa menyetel musik apa pun saat bekerja. Atau sekadar duduk lima menit di pagi hari tanpa menyalakan podcast atau televisi. Anggap saja keheningan ini sebagai asupan gizi yang esensial, sama pentingnya dengan tidur yang cukup dan air putih. Saat kita secara sadar memberi ruang bagi keheningan, kita sebenarnya tidak sedang mengosongkan pikiran. Kita justru sedang merawat kognisi kita, memberi ruang bagi diri kita sendiri untuk akhirnya bisa berpikir dengan jernih lagi.